Skip to main content

Bab 2: Ikat kuat kuat tali sepatumu, ya

 

 “dengan nomor kursi berapa ka?”

“nomor kursi 04”

“nomor kursi 04 ada di barisan paling depan ya, selama menikmati perjalanan anda”

“baik, Terima kasih banyak”

Hari itu, adalah paragraf pertama pertemuan kita.

 

Lampu dimatikan, kursi dibaringkan. Ku begitu menikmati suasananya.

Pemerannya yang cantik, alur ceritanya yang begitu berwarna, juga latar yang dengan jeli kau gambarkan.

Dari mulai tertawa, menangis, sampai dititik diam seribu bahasa. Waah, film yang ku tonton di pesawat ini benar benar mempermainkan perasaan ku laik-nya kereta coaster.

Sampai akhirnya petugas di pintu 1 berteriak, “Terima kasih telah mempercayakan kami untuk melayani perjalanan anda, semoga selamat sampai tujuan”

Ku tak pernah benar benar percaya, perjalanan dengan jangka durasi selama 7 tahun itu telah sampai pada kota ‘bersambung’ dengan singkatnya.

 

“gue izin pergi dari ruang ini ya, semoga kedepannya lu baik baik aja tanpa gue dikursi itu”

“sekarang gue yang harus menjadi penonton atau bahkan korban dari setiap episode pamit orang lain, ra. Harusnya gue bisa paham dan lebih ngerti”

“maaf kalo gue pernah jadi alasan jatoh bangunnya kehidupan lo. Mulai sekarang ikat kuat kuat tali sepatunya ya, biar gak kesandung lagi. Bagaimanapun juga gue akan selalu jadi yang kanan untuk sepatu kiri lo”

Comments

Popular posts from this blog

bab 4: Gilir Haru dan Masa Lalu

  Ada yang mengajakku tenggelam, seseorang yang mengikat dan membiarkan diri kesulitan untuk bernafas. Mengajariku cara terbaiknya untuk menyapa keindahan dibalik luasnya asin yang terasa. Kemudian diajaknya ku mengudara tinggi diatas sana, tentu dengan aba aba jatuh yang sekian panjang dipersiapkan sebelumnya. Memintaku untuk melihat semua warna rasa dari kejauhan jarak pandang tak terhingga. kau tanya ku bahagia? tentu. Bersamaan dengan lahirnya antrian asumsi kepala manusia tentang apa lembaran yang kuselipkan dibukumu, juga bersaing dengan opini mereka tentang siapa ku dikenalmu. Mungkin sebagiannya bertanya, kenapa harus aku? yang kemudian kujawab dengan realita orang banyak yang pada akhirnya mengangkat bahu. Dia mengingatkanku pernah sebegitu lemahnya terhadap matahari. Suka duka, jatuh bangun, sampai sembuh sakit yang kulewati. Sedemikian dipertanyakan alasannya mengapa, dan kujawab karena panas dini hari. Maka akan ku renjana-kan kursi dan lampunya yang remang, meminta izi...

Bab 1: Bekal Makan Siang

Setahuku, aksara pertama harus sekokoh prajurit penjaga. Diam tanpa berkutip, berjalan tanpa mengintip. Ketika patung hidup itu ditanya, ia akan menjawab; “aku memang diperintahkan untuk ini”   Kalo begitu, mari kita awali dengan pesan pasukannya. Katanya, pelatihan ini tidak pernah mengenali apa itu rencana. Berisik untuk terbiasa, dan sunyi sebagai tanda bahaya. “berarti ada musuh dihadapan kita” begitu tuturnya.   Syukurlah, aku terlahir sebagai manusia yang begitu tinggi rasa penasarannya. “komandan, apa kunci kekuatan yang sebenarnya kita gali dari pelatihan ini?” “belajarlah untuk mandiri, belajar untuk menelan setiap suapan manis dan pahit dengan suka hati, berusahalah meski kau sudah terjamin kemenangannya, dan jangan lupa ceritakan semua yang baik Ketika kamu pulang nanti.” Begitu jelas komandan.   Menyimpannya dalam satu wadah kuasa. Diracik begitu lezat dengan merahnya bunga mawar sebagai pelengkap warna. Tak luput dari senyuman si pensaji, Yang bekal makan sia...

Bab 3: Jilid kedua

Bab 3: Jilid kedua Rasanya manis, segelas teh hangat yang ku minum sore ini memiliki warna yang serasi dengan langitnya. Sembari merenungkan tentang kejadian di sekolah tadi, "apakah aku benar benar seperti yang mereka katakan?" coba kutanya pendapatmu, Ada yang pernah mengakhiri epilog dengan tragedi kesalahan pemain? Aku salah satunya. script tebal yang telah lama kurancang, kusudahi dengan demikian penutupnya. Bahkan kuhabiskan waktu semalam penuhku hanya untuk akhir yang bukan ‘selamat tinggal’ itu. “hey, apa itu alasanmu datang terlambat hari ini?” Mereka menganggap itu adalah epilog yang gila dan merugikan. Tetapi tidak dengan tangan penulisku, mengapa? karena dengan itu, para pembaca akan mengira keberadaan jilid kedua untuk judul ceritanya.   Aku hanya bercanda. Tapi, Apa sebaiknya ku benar benar melanjutkannya?