Ada yang mengajakku tenggelam, seseorang yang mengikat dan membiarkan diri kesulitan untuk bernafas. Mengajariku cara terbaiknya untuk menyapa keindahan dibalik luasnya asin yang terasa. Kemudian diajaknya ku mengudara tinggi diatas sana, tentu dengan aba aba jatuh yang sekian panjang dipersiapkan sebelumnya. Memintaku untuk melihat semua warna rasa dari kejauhan jarak pandang tak terhingga. kau tanya ku bahagia? tentu. Bersamaan dengan lahirnya antrian asumsi kepala manusia tentang apa lembaran yang kuselipkan dibukumu, juga bersaing dengan opini mereka tentang siapa ku dikenalmu. Mungkin sebagiannya bertanya, kenapa harus aku? yang kemudian kujawab dengan realita orang banyak yang pada akhirnya mengangkat bahu. Dia mengingatkanku pernah sebegitu lemahnya terhadap matahari. Suka duka, jatuh bangun, sampai sembuh sakit yang kulewati. Sedemikian dipertanyakan alasannya mengapa, dan kujawab karena panas dini hari. Maka akan ku renjana-kan kursi dan lampunya yang remang, meminta izi...
fase ketiga setelah musim dingin dan panas; yang ditandai dengan keberadaan ceritamu didalamnya.