Bab 3: Jilid kedua Rasanya manis, segelas teh hangat yang ku minum sore ini memiliki warna yang serasi dengan langitnya. Sembari merenungkan tentang kejadian di sekolah tadi, "apakah aku benar benar seperti yang mereka katakan?" coba kutanya pendapatmu, Ada yang pernah mengakhiri epilog dengan tragedi kesalahan pemain? Aku salah satunya. script tebal yang telah lama kurancang, kusudahi dengan demikian penutupnya. Bahkan kuhabiskan waktu semalam penuhku hanya untuk akhir yang bukan ‘selamat tinggal’ itu. “hey, apa itu alasanmu datang terlambat hari ini?” Mereka menganggap itu adalah epilog yang gila dan merugikan. Tetapi tidak dengan tangan penulisku, mengapa? karena dengan itu, para pembaca akan mengira keberadaan jilid kedua untuk judul ceritanya. Aku hanya bercanda. Tapi, Apa sebaiknya ku benar benar melanjutkannya?
fase ketiga setelah musim dingin dan panas; yang ditandai dengan keberadaan ceritamu didalamnya.