Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2023

Bab 3: Jilid kedua

Bab 3: Jilid kedua Rasanya manis, segelas teh hangat yang ku minum sore ini memiliki warna yang serasi dengan langitnya. Sembari merenungkan tentang kejadian di sekolah tadi, "apakah aku benar benar seperti yang mereka katakan?" coba kutanya pendapatmu, Ada yang pernah mengakhiri epilog dengan tragedi kesalahan pemain? Aku salah satunya. script tebal yang telah lama kurancang, kusudahi dengan demikian penutupnya. Bahkan kuhabiskan waktu semalam penuhku hanya untuk akhir yang bukan ‘selamat tinggal’ itu. “hey, apa itu alasanmu datang terlambat hari ini?” Mereka menganggap itu adalah epilog yang gila dan merugikan. Tetapi tidak dengan tangan penulisku, mengapa? karena dengan itu, para pembaca akan mengira keberadaan jilid kedua untuk judul ceritanya.   Aku hanya bercanda. Tapi, Apa sebaiknya ku benar benar melanjutkannya?

Bab 2: Ikat kuat kuat tali sepatumu, ya

    “dengan nomor kursi berapa ka?” “nomor kursi 04” “nomor kursi 04 ada di barisan paling depan ya, selama menikmati perjalanan anda” “baik, Terima kasih banyak” Hari itu, adalah paragraf pertama pertemuan kita.   Lampu dimatikan, kursi dibaringkan. Ku begitu menikmati suasananya. Pemerannya yang cantik, alur ceritanya yang begitu berwarna, juga latar yang dengan jeli kau gambarkan. Dari mulai tertawa, menangis, sampai dititik diam seribu bahasa. Waah, film yang ku tonton di pesawat ini benar benar mempermainkan perasaan ku laik-nya kereta coaster. Sampai akhirnya petugas di pintu 1 berteriak, “Terima kasih telah mempercayakan kami untuk melayani perjalanan anda, semoga selamat sampai tujuan” Ku tak pernah benar benar percaya, perjalanan dengan jangka durasi selama 7 tahun itu telah sampai pada kota ‘bersambung’ dengan singkatnya.   “gue izin pergi dari ruang ini ya, semoga kedepannya lu baik baik aja tanpa gue dikursi itu” “sekarang gue yang harus menjadi penonton ...

Bab 1: Bekal Makan Siang

Setahuku, aksara pertama harus sekokoh prajurit penjaga. Diam tanpa berkutip, berjalan tanpa mengintip. Ketika patung hidup itu ditanya, ia akan menjawab; “aku memang diperintahkan untuk ini”   Kalo begitu, mari kita awali dengan pesan pasukannya. Katanya, pelatihan ini tidak pernah mengenali apa itu rencana. Berisik untuk terbiasa, dan sunyi sebagai tanda bahaya. “berarti ada musuh dihadapan kita” begitu tuturnya.   Syukurlah, aku terlahir sebagai manusia yang begitu tinggi rasa penasarannya. “komandan, apa kunci kekuatan yang sebenarnya kita gali dari pelatihan ini?” “belajarlah untuk mandiri, belajar untuk menelan setiap suapan manis dan pahit dengan suka hati, berusahalah meski kau sudah terjamin kemenangannya, dan jangan lupa ceritakan semua yang baik Ketika kamu pulang nanti.” Begitu jelas komandan.   Menyimpannya dalam satu wadah kuasa. Diracik begitu lezat dengan merahnya bunga mawar sebagai pelengkap warna. Tak luput dari senyuman si pensaji, Yang bekal makan sia...

Opening statement

  Salam pembuka sebagaimana pada umumnya. Membuat setiap pembaca kembali memperkirakan akan seperti apa kelanjutannya. Juga tidak menutup kemungkinan ttg akhir yang sudah terlihat nyata dimata mereka.   Selasa pagi, sekembalinya ke habitat masing masing. Juga rotasi yang mulai berputar lagi seperti biasa. Pejam sejenak, tergambar. Jeda selintas, Kembali terbayang.. kini, banyak kata ‘kukira’ yang tersusun darinya.   Berhari hari tanpa namanya, 3 pekan sudah tidak menceritakanya, Kukira 6 tahunku semudah itu diselesaikan. Ternyata, Tidak.   Dan sampai saat ini, usaha mundurku hanyalah ‘pernah’ yang kembali gagal. berbagai cara dalam menjawab sudah kucoba, tentang Bagaimana mungkin? Ekspetasiku Ketika membaca salam pembuka, Begitu saja tertolak oleh bab cerita yang pertama.

Daftar isi

  Kantong bajuku terasa berat. Berwarna warni, kukira bentuknya akan seindah Pelangi. Yang dengan segenap pilu, hanyalah selembar buku yang dibungkus rapih dengan cover berwarna biru.   Bangunku tidak seperti biasanya hari ini. Tidak lagi ramai dengan speaker sakan yang suaranya menembus gendang telinga, Atau sentuhan lembut tangan temanku yang sudah siap dengan mukenanya.   Sekolahku juga terasa lebih dekat. Selangkah dua langkah, ternyata sampai sudah. Tidak perlu lagi berlomba lari, atau adu alasan Ketika guruku sudah membuka pintunya lebih pagi.   Kali ini, kuceritakan daftar isinya. Sebagaimana yang kulakukan dulu, bahwa penutupnya akan sedekat itu tanpa kau tahu. Maka, siapapun tokoh dan bentuk alurnya; Selamat membaca:)