Kemudian diajaknya ku mengudara tinggi diatas sana, tentu dengan aba aba jatuh yang sekian panjang dipersiapkan sebelumnya. Memintaku untuk melihat semua warna rasa dari kejauhan jarak pandang tak terhingga.
kau tanya ku bahagia? tentu. Bersamaan dengan lahirnya antrian asumsi kepala manusia tentang apa lembaran yang kuselipkan dibukumu, juga bersaing dengan opini mereka tentang siapa ku dikenalmu. Mungkin sebagiannya bertanya, kenapa harus aku? yang kemudian kujawab dengan realita orang banyak yang pada akhirnya mengangkat bahu.
Dia mengingatkanku pernah sebegitu lemahnya terhadap matahari. Suka duka, jatuh bangun, sampai sembuh sakit yang kulewati.
Sedemikian dipertanyakan alasannya mengapa, dan kujawab karena panas dini hari.
Maka akan ku renjana-kan kursi dan lampunya yang remang, meminta izin untuk duduk dan menyusun kembali niskalanya kenangan dahulu.
Terdengar hanya tentang ketikan ber-spasi yang akan asing pada masanya memang,
tapi maaf, karena mulai hari ini ku akan terlalu mencinta bulan malam itu.

Comments
Post a Comment