Ada yang mengajakku tenggelam, seseorang yang mengikat dan membiarkan diri kesulitan untuk bernafas. Mengajariku cara terbaiknya untuk menyapa keindahan dibalik luasnya asin yang terasa. Kemudian diajaknya ku mengudara tinggi diatas sana, tentu dengan aba aba jatuh yang sekian panjang dipersiapkan sebelumnya. Memintaku untuk melihat semua warna rasa dari kejauhan jarak pandang tak terhingga. kau tanya ku bahagia? tentu. Bersamaan dengan lahirnya antrian asumsi kepala manusia tentang apa lembaran yang kuselipkan dibukumu, juga bersaing dengan opini mereka tentang siapa ku dikenalmu. Mungkin sebagiannya bertanya, kenapa harus aku? yang kemudian kujawab dengan realita orang banyak yang pada akhirnya mengangkat bahu. Dia mengingatkanku pernah sebegitu lemahnya terhadap matahari. Suka duka, jatuh bangun, sampai sembuh sakit yang kulewati. Sedemikian dipertanyakan alasannya mengapa, dan kujawab karena panas dini hari. Maka akan ku renjana-kan kursi dan lampunya yang remang, meminta izi...
Bab 3: Jilid kedua Rasanya manis, segelas teh hangat yang ku minum sore ini memiliki warna yang serasi dengan langitnya. Sembari merenungkan tentang kejadian di sekolah tadi, "apakah aku benar benar seperti yang mereka katakan?" coba kutanya pendapatmu, Ada yang pernah mengakhiri epilog dengan tragedi kesalahan pemain? Aku salah satunya. script tebal yang telah lama kurancang, kusudahi dengan demikian penutupnya. Bahkan kuhabiskan waktu semalam penuhku hanya untuk akhir yang bukan ‘selamat tinggal’ itu. “hey, apa itu alasanmu datang terlambat hari ini?” Mereka menganggap itu adalah epilog yang gila dan merugikan. Tetapi tidak dengan tangan penulisku, mengapa? karena dengan itu, para pembaca akan mengira keberadaan jilid kedua untuk judul ceritanya. Aku hanya bercanda. Tapi, Apa sebaiknya ku benar benar melanjutkannya?